Hak atas foto AFP Image caption Kelompok HAM di Suriah mengatakan sekolah dan rumah sakit menjadi target dalam serangan tersebut.

Setidaknya 20 warga sipil, termasuk sembilan anak-anak, tewas dalam serangan yang dilancarkan tentara Suriah ke wilayah Idlib pada Selasa (26/02).

Sementara, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan "hanya masalah waktu" sebelum meluncurkan operasi untuk menghentikan serangan tentara Suriah di provinsi Idlib yang dikuasai oposisi.

Kelompok HAM di Suriah mengatakan sekolah dan rumah sakit menjadi target dalam serangan terbaru di Idlib yang terjadi Selasa (26/02).

The Union of Medical Care and Relief Organizations (UOSSM) mengatakan sepuluh sekolah dan rumah sakit pusat Idlib dibombardir oleh serangan udara dan darat.

Organisasi itu menyebut serangan itu "barbar".

  • Mengapa pertempuran Idlib di Suriah penting?
  • Turki kutuk serangan udara Suriah terhadap konvoinya
  • Perang Suriah: Erdogan mengatakan Turki tak bisa tangani 'gelombang pengungsi baru'

Direktur Regional Timur Tengah dan Afrika Utara Amnesty International, Heba Morayef, mengutuk serangan tersebut, mengatakan: "Sekolah semestinya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk belajar dan bermain, bahkan ketika berada di zona konflik."

"Menargetkan sekolah dan taman kanak-kanak yang digunakan untuk keperluan warga sipil adalah kejahatan perang," tegasnya.

Pasukan tentara Suriah terus melakukan serangan di provinsi Idlib, wilayah yang masih dikuasai oleh oposisi dan jihadis.

Hak atas foto AFP Image caption Serangan di Idlib telah membuat 900.000 mengungsi, termasuk setengah juta anak-anak, sejak 1 Desember.

Serangan itu telah membuat 900.000 mengungsi, termasuk setengah juta anak-anak, sejak 1 Desember.

Krisis kemanusiaan di Idlib disebut sebagai yang terburuk sejak konflik dimulai pada 2011.

PBB sebelumnya memperingatkan bahwa pertempuran di Idlib bisa mengakibatkan "perang darah".

Pekan lalu, Sekretaris Jenderal António Guterres telah menyerukan gencatan senjata segera.

Hak atas foto AFP Image caption Kota Atareb yang menjadi benteng oposisi dibombardir serangan

'Serangan Idlib hanya masalah waktu'

Idlib adalah benteng terakhir pemberontak dan pejuang jihad yang telah berusaha untuk menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad sejak 2011.

Dalam beberapa tahun terakhir, masuknya pengungsi telah menggandakan populasi menjadi sekitar tiga juta, termasuk satu juta anak-anak.

Turki, yang mendukung oposisi terhadap Assad dan khawatir meningkatnya gelombang besar pengungsi Suriah lainnya, telah mengerahkan pasukan ke pos-pos pengamatan di Idlib berdasarkan perjanjian dengan Rusia yang membentuk zona de-eskalasi - perjanjian Sochi 2018.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan bahwa dia bertekad untuk mengubah daerah perbatasan menjadi tempat yang aman "dengan cara apa pun".

Hak atas foto AFP Image caption Turki telah mengerahkan ribuan pasukan untuk memperkuat kedudukannya di provinsi Idlib

Serangan terbaru dan penerbangan warga sipil berikutnya ke perbatasan Turki mendorong militer Turki untuk mulai memperkuat posisinya di Idlib pada Januari. Ribuan tentara dan ratusan tank telah tiba.

Awal bulan ini, setelah beberapa personil Turki terbunuh dalam serangan artileri yang oleh pejabat Turki disebut disebabkan oleh tentara Suriah, Erdogan mengatakan kepada pemerintah untuk mundur ke barisan pos pengamatan Turki atau menghadapi aksi militer.

Pada hari Selasa (18/02), seorang juru bicara kepresidenan Turki mengatakan pembicaraan antara delegasi Turki dan Rusia di Moskow belum membuahkan "hasil yang memuaskan."

Dalam pidato kepada politisi dari partai AK yang mendukungnya pada Rabu (19/02), Erdogan memperingatkan: "Kita memasuki hari-hari terakhir bagi rezim Suriah untuk mengakhiri pertempuran di Idlib."

"Kami membuat peringatan terakhir kami," katanya.

"Kami tidak mencapai kesepakatan yang diinginkan dalam pembicaraan [dengan Rusia]. Pembicaraan harus berjalan, namun benar bahwa kami belum mendapatkan kesepakatan yang diinginkan."

"Turki telah mempersiapkan untuk meluncurkan rencana serangan. Saya mengatakan bahwa itu bisa terjadi kapan saja. Dengan kata lain, serangan Idlib hanya masalah waktu," imbuhnya.

Hak atas foto AFP Image caption Recep Tayyip Erdogan menghendaki militer Suriah mundur

Seorang juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menanggapi ancaman itu dengan cepat, dengan mengatakan: "Jika kita berbicara tentang operasi terhadap otoritas sah Republik Suriah dan angkatan bersenjata Republik Suriah, ini tentu saja akan menjadi skenario terburuk."

Tetapi Dmitry Peskov menambahkan bahwa Rusia tidak akan keberatan jika militer Turki mengambil tindakan terhadap "kelompok-kelompok teroris di Idlib", sesuai dengan kesepakatan Sochi.

Pasukan Turki dan sekutu pemberontak Suriah telah melakukan tiga operasi di Suriah utara sejak 2016, meskipun tidak secara langsung terhadap pasukan pemerintah yang didukung Rusia.

Oktober lalu, mereka mengusir pejuang milisi Kurdi yang didukung AS dari wilayah antara kota Tal Abyad dan Ras al-Ain.

Sekitar 300.000 orang mengungsi dan 120 warga sipil tewas selama operasi, menurut sebuah kelompok pemantau.

Hak atas foto AFP Image caption Setengah juta anakanak terpaksa mengungsi sejak serangan pemerintah

Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet menyatakan kengeriannya pada skala krisis kemanusiaan di Suriah barat laut pada hari Selasa (18/02). Dia mengatakan serangan terhadap kamp-kamp yang menampung warga sipil yang kehilangan tempat tinggal adalah hal yang sangat kejam.

"Seluruh keluarga, beberapa yang telah melarikan diri dari satu sudut Suriah ke yang lain selama dekade terakhir, secara tragis menemukan bahwa bom adalah bagian dari kehidupan sehari-hari mereka," katanya kepada wartawan di Jenewa.

"Bagaimana bisa ada orang yang membenarkan melakukan serangan sembarangan dan tidak manusiawi seperti itu?"

Bachelet meminta pemerintah Suriah dan sekutunya untuk mengizinkan akses bantuan kemanusiaan ke daerah konflik, dan untuk memungkinkan jalan yang aman bagi warga sipil.

Hak atas foto AFP Image caption Penerbangan penumpang pertama selama lebih dari delapan tahun antara Damaskus dan kota kedua Suriah sejak 2012 dilakukan pada Rabu silam

Dalam perkembangan terpisah pada hari Rabu (18/02), penerbangan penumpang pertama selama lebih dari delapan tahun antara Damaskus dan kota kedua Suriah, Aleppo, terjadi.

Media pemerintah Suriah mengutip kepala bandara Aleppo yang mengatakan dimulainya kembali penerbangan selama 35 menit itu adalah hasil dari kemenangan tentara melawan terorisme.

Sementara itu, dua pekerja bantuan Oxfam tewas di provinsi selatan Deraa, kata badan amal itu.

Wissam Hazim dan Adel al-Halabi sedang bepergian dengan kendaraan ketika diserang oleh kelompok bersenjata yang sejauh ini tidak diketahui identitasnya.